Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-

Senin, 29 Februari 2016

Kegemilangan Caballero yang Mengagalkan Perjudian Juergen Klopp

Final Piala Liga Inggris

Kegemilangan Caballero yang Mengagalkan Perjudian Juergen Klopp

Senin, 29/02/2016 17:34 WIB
Kegemilangan Caballero yang Mengagalkan Perjudian Juergen KloppReuters / Eddie Keogh
Manchester City berhasil menjadi juara Piala Liga Inggris usai mengalahkan Liverpool lewat drama adu penalti, Minggu (28/2) di Stadion Wembley, setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.

City berhasil unggul lebih dahulu melalui gol dari Fernandinho pada menit ke-49. Namun keunggulan tersebut berhasil digagalkan oleh Coutinho tujuh menit jelang babak kedua selesai. Pada babak tambahan waktu, kedua tim gagal mencetak gol meski menghasilkan beberapa peluang berbahaya.

Pada drama tos-tosan, kiper Man City, Willy Caballero, berhasil menjadi pahlawan setelah menggagalkan tiga tendangan penalti Liverpool. Ini adalah kali keempat The Citizens memenangi Piala Liga setelah tahun 1970, 1976, dan 2014.



Cedera yang Mengubah Skema Permainan

Juergen Klopp lagi-lagi harus memainkan Lucas Leiva yang merupakan gelandang sebagai bek tengah. Cederanya beberapa pemain inti menjadi penyebabnya. Ia memang tak bermain buruk pada laga kali ini. Kecepatannya masih cukup untuk mengimbangi pergerakan Sergio Aguero. Hanya saja ia mulai punya masalah ketika rekan duetnya, Mamadou Sakho, terpaksa ditarik keluar karena cedera pada menit 25.

Kolo Toure yang akhirnya masuk menggantikan ternyata belum sepenuhnya "nyetel" dengan pemain belakang lainnya. Beberapa kali peluang tercipta untuk City akibat buruknya kordinasi di pertahanan, termasuk saat terjadinya gol Fernandinho. Pergerakan Fernandinho sebelum melepaskan tembakan tidak terdeteksi barisan belakang. Padahal gelandang asal Brasil tersebut berlari dari lini kedua di belakang Aguero yang memberikan assist.

Sementara itu kondisi yang hampir sama terjadi pada Man City. Manuel Pellegrini dipusingkan dengan absennya beberapa pilarnya. Ia akhirnya terpaksa menerapkan skema yang tak biasa seperti laga melawan Dynamo Kyiv di ajang Liga Champions, Rabu lalu.

Bukannya menempatkan Yaya Toure di belakang Aguero dan menggeser David Silva ke sayap, Pellegrini justru menduetkan Toure bersama Fernando sebagai poros ganda dan memberi tugas Silva sebagai pemain no 10. Sedangkan sayap kanan justru diisi oleh Fernandinho, pemain yang menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya sebagai gelandang bertahan.

Posisi yang tak biasa dari Fernandinho ini membawa dua dampak sekaligus bagi City. Di babak pertama posisi Fernandinho sebenarnya merupakan titik lemah. Ia minim pergerakan di sisi sayap, begitu juga soal pertahanan. Posisinya kerap jebol oleh pergerakan Moreno dan Coutinho. Namun kelemahan ini sepertinya adalah dampak dari peran yang dilimpahkan kepadanya.

Pemain asal Brasil ini sepertinya diberi tugas berlapis oleh Pellegrini untuk menjaga sayap dan tengah sekaligus. Ketika bertahan ia selalu sedikit ke tengah dan seolah City sedang menggunakan tiga gelandang bertahan sekaligus. Karena hal ini juga lini tengah mereka mampu meredam pergerakan Liverpool.

Para pemain Liverpool seolah dipaksa untuk terus melakukan umpan silang dan banyak bermain secara diagonal. Fernandinho akhirnya juga mampu memberi kontribusi besar lewat golnya pada awal babak kedua.

Kelemahan di Sepertiga Akhir



Kedua juru taktik sepertinya sedikit berhati-hati mengingat ini adalah partai final. Akibatnya adalah tidak ada gol tercipta pada babak pertama. Total sebelum turun minum Liverpool melakukan 6 tembakan, sedangkan Man City hanya 3. Hanya saja tidak ada tembakan tepat sasaran yang dilakukan The Reds, sedangkan lawannya berhasil menciptakan satu peluang melalui Aguero.

Liverpool maupun City punya masalah yang hampir sama, yakni kesulitan memasuki sepertiga akhir lawan. Secara taktik permainan keduanya jauh berbeda. City lebih banyak mengandalkan Aguero sendirian di depan sedangkan Liverpool lambat perihal transisi serangan.

Aguero memang mampu merepotkan pertahanan Liverpool meski menjadi andalan seorang diri. Penyerang asal Argentina ini dengan kecepatannya mampu membuat pertahanan lawan menjadi terbuka. Ia bisa melakukan pergerakan pendek namun meledak-ledak di kotak penalti atau memilih untuk melebar agar bek lawan terpaksa mengikutinya.

Pemain City di sepertiga akhir menjadi minim. Padahal, salah satu ciri khas permainan Pellegrini selama bekerja di Etihad Stadium adalah pengusaan bola dan permainan cepat melalui umpan-umpan pendek. Sehingga otomatis mereka butuh banyak pemain yang bergerak di lini depan. Inilah alasan terbesar sektor serangan City tidak secair biasanya.

Walaupun tidak banyak pemain yang berada di sepertiga akhir, City tetap konsisten bermain dengan garis pertahanan tinggi. Pada laga kali ini, empat bek mereka berusaha tidak turun terlalu dalam dan menjaga jarak dengan gelandang agar tetap rapat.



Millner dan Coutinho beberapa kali sampai harus terjebak offside karena hal tersebut. Situasi ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Klopp dengan memberi banyak ruang kepada Sturridge atau Firmino. Namun keduanya justru harus tertahan di tengah karena cara main Liverpool yang lambat dan terlalu kaku.

Ketika menguasai bola di sepertiga akhir, Liverpool lebih banyak menahan terlebih dahulu ketimbang langsung mendistribusikan ke kotak penalti. Hal ini terjadi karena sekali lagi, Sturridge dan Firmino terlalu pasif di tengah.

Padahal di tengah, City menempatkan banyak pemainnya di sana. Tiga gelandang berkarakter kuat seperti Fernando, Toure, dan Fernandinho bukanlah lawan yang mudah untuk diajak berduel.

Pujian Caballero dan Eksekutor Aneh Liverpool

Pellegrini kembali memberi kepercayaan kepada kiper keduanya, Willy Caballero, di ajang Capital One. Sepertinya ia ingin memberi kesempatan anak asuhnya tersebut agar mendapat menit bermain yang cukup. Kepercayaan yang akhirnya berhasil dibalas tuntas dengan menjadi pahlawan saat adu penalti.

"Saya lebih baik kehilangan gelar (Capital One) ketimbang kata-kata saya. Banyak media yang menunggu untuk mengkritik saya jika Willy Caballero membuat kesalahan," kata Pellegrini seusai pertandingan.

Penjaga gawang berusia 34 tahun asal Argentina tersebut berhasil menghentikan tiga tembakan pemain Liverpool. Meski pada tendangan pertama ia sempat "dipermalukan" oleh Emre Can melalui tendangan panenka.



Caballero memang layak disebut pahlawan, namun yang menjadi sorotan lain adalah pilihan eksekutor penalti Liverpool. Kecuali sepakan Emre Can, tiga eksekutor penalti lainnya yang gagal adalah Lucas, Coutinho, dan Lallana. Kapten (Henderson) dan wakil kapten (Millner) tidak diberi kesempatan atau mungkin justru diberikan di akhir sebagai penendang kelima.

Padahal selain dua pemain tadi, di skuat Liverpool juga masih ada penyerang yang seharusnya punya kemampuan baik sebagai eksekutor, yaitu Daniel Sturridge dan Divock Origi. Entah apa alasan Klopp memilih pemain-pemain tadi, namun yang jelas kesempatan mendapatkan gelar pertamanya sejak tiba di Anfield kini telah melayang.

Kesimpulan

Kedua manajer sepertinya memilih bermain aman sejak awal pertandingan final ini. Skema menyerang yang diperagakan seminim mungkin melibatkan banyak pemain. Begitu juga dengan struktur permainan yang agak kaku agar terhindari resiko besar terkena serangan balik. Hal inilah yang membuat pertandingan berlangsung agak datar awalnya.

Bahkan manajer City, Manuel Pellegrini, baru berani melakukan pergantian pemain ketika pertandingan sudah memasuki babak tambahan. Taktik yang dipakai akhirnya menjadi bumerang karena Liverpool mampu menyamakan di menit-menit akhir pertandingan. Liverpool mampu berkembang sepanjang 90 menit sedangkan City memainkan skema yang hampir sama. Di sinilah salah satu alasan kenapa Coutinho akhirnya mampu menyamakan kedudukan.

Sementara pada babak adu penalti, Man City punya keuntungan dengan bermain apiknya penjaga gawang mereka. Tiga kali menggagalkan penalti berturut-turut merupakan catatan yang luar biasa bagi Caballero. Sedangkan Liverpool seperti yang disebutkan di atas punya kendala perihal eksekutor penalti.

Willy Caballero
Wilfredo Caballero 2012.JPG
Informasi pribadi
Nama lengkap Wilfredo Daniel Caballero Lazcano
Tanggal lahir 28 Januari 1981 (umur 35)
Tempat lahir Santa Elena, Argentina
Tinggi 186 m (610 ft 3 in)
Posisi bermain Penjaga gawang
Informasi klub
Klub saat ini Manchester City
Nomor 13
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
2001–2004 Boca Juniors 15 (0)
2004–2011 Elche 186 (0)
2006 → Arsenal Sarandí (pinjam) 13 (0)
2011–2014 Málaga 117 (0)
2014– Manchester City 2 (0)
Tim nasional
2001 Argentina U20 2 (0)
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik dan akurat per 1 Januari 2015.

0 komentar:

Posting Komentar